Selama hampir 6 bulan pacaran,
hubungan kami tampak baik-baik saja gak pernah ada masalah yang terlalu serius.
Sekali ada masalah kita berdua selalu menyelesaikan dengan baik. Aku merasa kami
cukup dewasa dalam menjalani hubungan ini. Mestipun saat itu kami sedang menempuh
semester 6 (semester yang cukup sibuk). Dia sibuk dengan banyaknya praktikum, mengejar
IPS-nya yang tertinggal dan aku lagi sibuk-sibuknya dengan tugas rancang. Tapi kita
tidak pernah bertengkar karena waktu untuk chatingan dan ketemu sangat jarang
yaitu 2 minggu/3 minggu sekali. Ya...its okay kita saling mengerti dan
mendukung satu sama lain. Rasanya bersyukur banget bisa menjalani sebuah
hubungan yang saling pengertian dan tidak menuntut satu sama lain.
Suatu hari menjelang semester 7,
saat itu aku sedang galau-galaunya mencari tempat untuk KP (Kerja Praktek). Aku
mengapply KP bersama teman dekatku yaitu Fitri dan Nabila. Sudah banyak
proposal yang kami kirimkan ke Perusahaan sana sini. Kebanyakan untuk waktu
yang kami apply buat KP sudah penuh. Rasanya hampir putus asa karena belum
menemukan tempat KP, hingga akhirnya harus mencari-cari langsung ke Perak. Ada
satu perusahaan yang saat itu menjanjikan menerima kami KP disana, dan 1 minggu
akan dihubungi, cukup lega rasanya. Namun, seminggu lebih sudah berlalu tidak
ada kabar apapun. Akhirnya aku menelpon perusahaan tersebut dan kata operator
tersebut sedang di proses dan harus menunggu 1 bulan lagi. Cemas, sedih dan
bete bercampur jadi satu, sedangkan waktu menuju KP tinggal 1 bulan lagi.
Kemudian 1 bulan terlewat akhirnya aku hubungi lagi dan gilanya bilang bahwa
kuota KP disana sudah penuh. Panik dong, nangis dong... Tapi alhamdulillah aku
punya dia yang selalu setia dengerin segala keluh kesah ku, membantu membuat
proposal KP serta memberikan saran-saran yang membuatku tenang, tak hanya itu
dukungannya selalu menyertai langkahku. Dan untungnya juga saat itu aku, fitri
dan nabila tidak hanya mengandalkan satu perusahaan, kami mencoba apply di
perusahaan lain. Berkat saran dari om ku, kami mencoba apply di salah satu
perusahaan galangan kapal swasta di Bangkalan Madura. Dan alhamdulillah applyan
kami diterima dengan cepat 10 hari sebelum masa KP tiba.
Saat itu dia sudah melewati
masa-masa KP satu bulan lebih dulu dari pada aku, jadi pas aku KP dia lebih banyak
nganggur di rumah. Saat KP, aku memutuskan ngekos di Bangkalan kota karena
jarak rumahku ke Bangkalan cukup jauh dan gak kuat kalo harus pulang pergi tiap
hari. Aku menjalani hari-hari KP dengan berbagai rasa yang aku rasakan ya ada
sedih (kangen orang tua dan keluarga), seneng (karena orang-orang sana baik,
ramah dan mau mengajari) dan kadang juga bete/baper (karena kadang ada
perbedaan pendapat yang membuat cekcok diantara aku, fitri dan nabil. Tapi itu
hal biasa). Ya begitulah hidup sedih seneng itu sepaket, mau gak mau ya harus
hadapi. Semakin hari aku merasa senang KP disana, selain baik ternyata orang
sana lucu-lucu dan kadang resek suka goda-godain. Yaa, aku maklum sih, karena
disana galangan kapal dan populasi cewek minoritas, aku dan teman-teman pun
santai-santai aja selama masih dalam batas sopan. Disana karyawannya masih
muda-muda jadi asyik kalo sharing-sharing gitu. Keakraban itulah yang membuat
kami makin dekat dengan karyawan-karyawan jadi sering makan bakso alun
bangkalan bareng, ngopi bareng dan bercanda bareng, sehingga kadang suka di
jodoh-jodohkan.
Aku setiap sabtu dan minggu
selalu pulang kerumah dan setiap itu juga dia nyamperin aku buat jalan melepas
kangen (Ya ampuun jadi kangen kalo inget masa-masa ini ☹).
Aku sama dia udah sepakat untuk jujur masalah apapun, saat itu aku cerita
hari-hariku saat KP. Aku cerita kalo seneng disana, lingkungan KP yang nyaman
dan orang-orangnya baik, ramah, terus karyawan disana masih muda dan baik-baik
sering teraktir makan, ngopi, ada yang ngajak nonton. Ntah dari cerita ku itu
dia cemburu dengan salah satu karyawan disana. Sikap dia berubah jadi posesif
sekali yang terkadang membuatku kesel sama sikapnya. Dia kepo chatku, dia minta
semua password sosial media ku, minta tukeran hp, dan dia selalu minta
screenshot chattinganku ketika kami tidak bertemu. Dia takut aku suka masnya,
dia takut aku perpaling darinya. Padahal dia tau juga bahwa masnya punya pacar
juga saat itu. Tapi ntahlah semua penjelasanku untuk meyakinkan dia tidak guna
dia tetap cemburu dan memintaku memblokir semua sosmed masnya yang aku punya. Saat
itu aku marah, karena bagiku tiba-tiba memblokir seseorang tanpa ada masalah
itu seperti orang jahat apalagi saat aku KP, mas tersebut banyak membantu ku
memberikan ilmu dan pengetahuan baru tentang kapal. Ternyata kemarahan ku pun
tidak cukup membuatnya sadar dan mengerti bahwa aku setia kepadanya. Aku tidak
pernah menghianati dengan menaruh hati sedikitpun kepada masnya. Ya mestipun
aku dengan masnya pernah chattingan dan berjanji untuk makan bareng. Cuma semua
sebatas basa-basi dan guyonan tidak penting menurutku. Buktinya hingga sekarang
kami juga tidak pernah jalan atau makan berdua. Akhirnya setelah KP aku
mengalahkan ego untuk memblokir masnya, karena dia tetap tidak bisa mengerti
maksudku, dan itu juga karena aku malas untuk berdebat lagi dengan dia.
Setelah aku selesai KP,
hubunganku dengan dia semakin baik seperti sebelum-sebelumnya, mestipun dia
lebih prosesif jika aku komunikasi dengan temanku yang lawan jenis. Meskipun KP
sudah selesai, tapi aku masih punya tanggungan laporan KP yang harus aku
selesaikan pada awal bulan November 2017. Lagi-lagi aku bersyukur memilikinya
dia membantuku untuk menyelesaikan dan mengeprintkan laporan KP ku (Memang kami
selalu seperti itu saling membantu ketika salah satu membutuhkan bantuan,
akupun melakukan hal yang sama kepadanya). Semakin hari aku merasa hubungan
kami makin baik, hingga pada akhirnya presentasi laporan KP tiba, dan aku mendapatkan 4 revisian
(tidak terlalu berat memang). Dari 4 revisian tersebut 3 diantaranya aku mampu
menyelesaikan dengan baik, sedangkan ada satu revisian yang sulit untuk aku
pecahkan hingga akhirnya aku bertanya kepada karyawan tempat aku KP. Banyak
diantaranya yang kurang paham tata letak cradle dan aku teringat saat itu mas
(yang dicemburuin dia) pernah menjelaskan hal itu padaku saat KP dulu, namun sebelum bertanya aku mempertimbangkan lagi, kalau aku izin dia pasti dia marah dan
takutnya ga diizinin, tapi kalau ga bilang ntar gak jujur namanya. Sumpah aku
bingung saat itu, masalah kuliah udah berat kalo ketambahan pacar marah jadi
berat lagi pikirku. Yaudah akhirnya aku mutusin buat save nomor masnya lagi (dari grup
Bujangan Galangan saat itu, ini grup para bujangan yang dulu ada sekitar 15
orang yang isinya aku, nabila, fitri beserta karyawan bujang tempat aku KP, yg
sekarang isinya Cuma tinggal 6 orang dan hanya 4 orang yang tersisa bujang,
wkwk) tanpa ngomong ke dia, dan niatku cuma tanya aja, setelah itu akan aku hapus lagi. Saat itu, aku ngesave nomer masnya dengan nama lain,
karena ntahlah pikiranku kacau, pikirku hanya takut kalo dia marah sama aku ☹.
Alhamdulillah akhirnya revisian laporan ku selesai. Seneng dong, karena satu
beban berkurang. Tapi ternyata Allah tidak membiarkan pikiranku nganggur, ada
beban berat yang harus aku terima yaitu menghadapi kemarahannya dia. Ntah ada angin apa tiba-tiba dia scroll whatapps ku sampe kebawah dan ada satu pesan yang aku arsipkan yaitu pesan masnya (karena itu akan aku jadikan bukti ke Dosenku bahwa aku menyelesaikan
revisian tidak asal-asalan, aku tanyakan kepada orang galangan langsung)
yang isinya cuma sekedar pembahasan revisian KP ku tanpa ada guyonan wkwk sedikitpun (karena memang sebelumnya aku udah jelasin dengan tegas bahwa pacarku cemburu, ya aku ingin semua jelas dan aku ingin masnya juga bisa menghargai perasaan pacarnya dan pacarku). Aku kira semua penjelaskanku akan membuat dia paham, ternyata dia marah besar dan itulah pertama kali aku berantem
sama dia sampe nangis, dia merasa aku membohongi dia. Aku sudah
menjelaskan kenyataannya semampu ku kedia. Saat itu dia bilang memaafkan, tapi
aku gak tau hatinya bagaimana. Aku nyesel gak jujur sama dia, tapi saat itu aku
berada dalam posisi kebingungan harus bagaimana π’π.
