Jumat, 14 Desember 2018

Sebuah Komitmen Dimulai

beautiful-bloom-blooming-894753

Sebuah anugrah terindah yang Tuhan titipkan pada manusia adalah ketika kita bisa merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Itulah yang aku rasakan saat akhirnya kamu kembali meyakini diriku menjadi pilihanmu. Mestipun, awalnya kita sama-sama ragu. Namun, saat kita bersama suasana apapun menjadi sangat cair dan selalu tertawa tanpa beban diantara kita, itulah yang membuat kita kembali menjadi yakin. Ya…. Aku sangat bahagia bersamamu… sama sepertimu yang juga terlihat bahagia bersamaku. Perasaan yang lama tak pernah aku rasakan, akhirnya kembali aku rasakan saat itu.

Farewell Party Gerigi pun akhirnya tiba, inilah hari dimana kamu mengenalkanku kepada ke 4 sahabatmu. Mereka memberikan respons positif padaku dan mereka terlihat senang juga akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu yaitu aku. Saat itu aku masih malu-malu karena baru pertama bertemu orang-orang baru, hanya sekedar kenalan biasa tak perlu banyak kata, namun kita sudah layaknya seperti teman-teman dekat yang berfoto-foto bareng. Oh ya, padahal saat itu aku juga bersama kedua temanku yaitu Fara dan Nabil, mereka sengaja ku tinggalkan karena aku memilih bersamamu dan teman-temanmu, alasan lain juga karena aku dan mereka juga tidak satu provinsi sewaktu Gerigi (Ah, tidak ini bukan alasan toh aku sendiri juga tidak kumpul dengan provinsi lampung saat itu). Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka karena mereka tidak pernah membahas kesalahan temannya, dan mungkin mereka memaklumi diriku yang saat itu sedang terserang virus jatuh cinta. Hehe…. Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 saat itu dan akupun mengajakmu pulang terlebih dahulu, meskipun sebenarnya aku tahu kalau kamu masih ingin bersamaku. Tapi apalah daya aku hanya anak rumahan yang sepertinya tak patut anak perempuan pulang terlalu malam (mestipun sering, namun masalah tugas), namun aku tetap menghormati adat istiadat di kampungku dan menjaga nama baik keluargaku.
Hari demi hari kita lewati dengan bahagia, mestipun tidak luput dari masalah juga kita hadapi, terkadang perbedaan jurusan yang membuat kita susah untuk bertemu 😭, cemburu juga hal wajar saat itu menurut kita. Seperti saat aku mulai dekat dengan teman-temanmu, kamu tak rela sepertinya aku akrab keteman-temanku seperti kamu ke mereka. Ya,,, aku mencoba menghargai pendapatmu saat itu dari sebuah pengalamam trauma  karena pernah ditikung temanmu sendiri. Baiklah, sejak saat itu aku sudah tak pernah menanyakan bagaimana kamu ke teman-temanmu, mestipun awalnya hanya ingin kenal kamu lebih dalam dari teman-temanmu karena aku baru kenal juga denganmu. Tapi sepertinya kamu adalah orang yang lebih menyukai sebuah proses seiring berjalannya waktu. Saat itu aku mulai tahu apa yang tidak kamu suka dan apa yang kamu suka. Aku mulai mengenalimu😊
Surabaya, 3 Maret 2017
Hari itu kamu marah kepadaku karena kamu tahu aku chattingan lagi dengan salah satu temanmu, namun semua bukan aku yang mulai tapi dia yang mengirimkan pesan instan kepadaku terlebih dahulu. Aku lupa isi pesannya seperti apa, yang aku ingat dia membahas tentangmu juga saat itu. Akupun membalasnya karena aku sangat antusias ketika namamu disebut. Aku sedih kamu marah, akhirnya aku menjelaskan semuanya kepadamu. Aku takut kehilangan kamu dan aku takut kamu marah kepadaku, akhirnya dengan segenap keyakinanku aku menembakmu. Aku ga peduli saat itu kamu menganggapku wanita apa, karena yang aku pikirkan aku gak ingin menunda kesempatan untuk membangun sebuah komitmen saat itu. 6 bulan lebih PDKT denganmu aku rasa cukup. Mestipun ada rasa kecewa mengapa kamu gak peka untuk menembakku lebih dulu seperti janji-janjimu sebelumnya, mestipun kamu terlebih dulu bilang padaku bahwa kamu sayang aku. Aku menunggumu saat itu, pikiranku apa yang kamu tunggu, apa yang kamu ragukan lagi dari aku kenapa tidak kamu mulai saja komitmen ini? Toh kita sudah saling tau sifat masing-masing. Apakah kamu masih ingin bebas saat itu? Tapi bagaimana dengan aku yang butuh kepastian saat itu? Apakah kita terlalu cepat membangun komitmen ini? Ntahlah biarkan waktu yang menjawab semuanya. Tapi dibalik rasa kecewaku itu, kamu gak ingin buat aku kecewa sepertinya dan akhirnya kamu menerima aku dan memulai menjalin komitmen kita menjadi sepasang kekasih saat itu. Aku bahagia dan sangat bahagia saat itu :’).
Mestipun awalnya aku berpikir kamu terpaksa menerimaku, tapi aku menjalani hari-hari bahagia sebagai pacarmu. Namun, akhirnya sebuah kebohongan terungkap. Aku meminta pertemanan denganmu di Path. Aku mencoba stalking pathmu setelah kamu acceptnya dan aku menemukan jawaban dari semua keraguanku, kamu pernah jalan dengan perempuan lain tapi kamu bilang kepadaku itu adikmu, jelas-jelas aku tau siapa adikmu. Hatiku hancur saat itu, aku marah, aku kecewa, aku berfikir apakah karena dia kamu ragu sama aku?? Aku tidak pernah berfikir bahwa kamu saat itu mendekati aku juga dia. Aku mencoba bertanya pada teman-temanmu apakah benar apa yang aku lihat, dan temanmu mencoba memberi penjelasan sebaik mungkin hingga aku percaya bahwa dia hanya teman bagimu tidak lebih. Mestipun rasanya aku sudah kecewa denganmu, tapi lagi-lagi rasa sayangku masih dapat dikalahkan egoku. Aku gak mungkin menyelesaikan hubungan ini begitu saja, aku hanya berusaha mempercayaimu lagi seperti semua tidak pernah terjadi apa-apa. Aku mencoba mendengarkan semua penjelasanmu dan aku berusaha menerima semuanya. Sulit memang, tapi aku bisa melupakan semua kesalahanmu karena aku mencintaimu. Aku tahu kamu menyesal atas semua yang kamu lakukan, kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan membuatku kecewa lagi. Hubungan kita semakin lebih baik setelah itu. Bahkan aku merasakan kamu begitu tulus mencintaiku saat itu, dengan bagaimana caramu menyikapiku saat aku marah, manja, saat aku sedih, saat aku dilanda masalah apapun kamu selalu menemaniku. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan seorang yang menjadikanku wanita begitu spesial, aku bahagia dan sangat bahagia dapat merasakan kasih sayang seorang bapak, kakak, teman dan pacar mengumpul menjadi satu dalam dirimu. Namun, kebahagiaan itu membuatku lupa akan orang-orang terdekatku aku terlalu nyaman dengan kamu. Aku juga semakin sering jalan-jalan bersama mu dan teman-temanmu daripada kumpul dengan teman-temanku 😢. Mungkin saat itu Tuhan sedang membuatku lupa akan nikmat dunia yang hanya sementara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar