
Sebuah anugrah terindah yang Tuhan
titipkan pada manusia adalah ketika kita bisa merasakan indahnya
mencintai dan dicintai. Itulah yang aku rasakan saat akhirnya kamu
kembali meyakini diriku menjadi pilihanmu. Mestipun, awalnya kita
sama-sama ragu. Namun, saat kita bersama suasana apapun menjadi sangat
cair dan selalu tertawa tanpa beban diantara kita, itulah yang membuat
kita kembali menjadi yakin. Ya…. Aku sangat bahagia bersamamu… sama
sepertimu yang juga terlihat bahagia bersamaku. Perasaan yang lama tak
pernah aku rasakan, akhirnya kembali aku rasakan saat itu.
Farewell Party Gerigi pun
akhirnya tiba, inilah hari dimana kamu mengenalkanku kepada ke 4
sahabatmu. Mereka memberikan respons positif padaku dan mereka terlihat
senang juga akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu yaitu aku. Saat itu
aku masih malu-malu karena baru pertama bertemu orang-orang baru, hanya
sekedar kenalan biasa tak perlu banyak kata, namun kita sudah layaknya
seperti teman-teman dekat yang berfoto-foto bareng. Oh ya, padahal saat
itu aku juga bersama kedua temanku yaitu Fara dan Nabil, mereka sengaja
ku tinggalkan karena aku memilih bersamamu dan teman-temanmu, alasan
lain juga karena aku dan mereka juga tidak satu provinsi sewaktu Gerigi
(Ah, tidak ini bukan alasan toh aku sendiri juga tidak kumpul dengan
provinsi lampung saat itu). Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka
karena mereka tidak pernah membahas kesalahan temannya, dan mungkin
mereka memaklumi diriku yang saat itu sedang terserang virus jatuh
cinta. Hehe…. Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 saat itu dan akupun
mengajakmu pulang terlebih dahulu, meskipun sebenarnya aku tahu kalau
kamu masih ingin bersamaku. Tapi apalah daya aku hanya anak rumahan yang
sepertinya tak patut anak perempuan pulang terlalu malam (mestipun
sering, namun masalah tugas), namun aku tetap menghormati adat istiadat
di kampungku dan menjaga nama baik keluargaku.
…
Hari demi hari kita lewati dengan
bahagia, mestipun tidak luput dari masalah juga kita hadapi, terkadang
perbedaan jurusan yang membuat kita susah untuk bertemu 😭,
cemburu juga hal wajar saat itu menurut kita. Seperti saat aku mulai
dekat dengan teman-temanmu, kamu tak rela sepertinya aku akrab
keteman-temanku seperti kamu ke mereka. Ya,,, aku mencoba menghargai
pendapatmu saat itu dari sebuah pengalamam trauma karena pernah
ditikung temanmu sendiri. Baiklah, sejak saat itu aku sudah tak pernah
menanyakan bagaimana kamu ke teman-temanmu, mestipun awalnya hanya ingin
kenal kamu lebih dalam dari teman-temanmu karena aku baru kenal juga
denganmu. Tapi sepertinya kamu adalah orang yang lebih menyukai sebuah
proses seiring berjalannya waktu. Saat itu aku mulai tahu apa yang tidak
kamu suka dan apa yang kamu suka. Aku mulai mengenalimu😊
…
Surabaya, 3 Maret 2017
Hari itu kamu marah kepadaku karena kamu
tahu aku chattingan lagi dengan salah satu temanmu, namun semua bukan
aku yang mulai tapi dia yang mengirimkan pesan instan kepadaku terlebih
dahulu. Aku lupa isi pesannya seperti apa, yang aku ingat dia membahas
tentangmu juga saat itu. Akupun membalasnya karena aku sangat antusias
ketika namamu disebut. Aku sedih kamu marah, akhirnya aku menjelaskan
semuanya kepadamu. Aku takut kehilangan kamu dan aku takut kamu marah
kepadaku, akhirnya dengan segenap keyakinanku aku menembakmu. Aku ga
peduli saat itu kamu menganggapku wanita apa, karena yang aku pikirkan
aku gak ingin menunda kesempatan untuk membangun sebuah komitmen saat
itu. 6 bulan lebih PDKT denganmu aku rasa cukup. Mestipun ada rasa
kecewa mengapa kamu gak peka untuk menembakku lebih dulu seperti
janji-janjimu sebelumnya, mestipun kamu terlebih dulu bilang padaku
bahwa kamu sayang aku. Aku menunggumu saat itu, pikiranku apa yang kamu
tunggu, apa yang kamu ragukan lagi dari aku kenapa tidak kamu mulai saja
komitmen ini? Toh kita sudah saling tau sifat masing-masing. Apakah
kamu masih ingin bebas saat itu? Tapi bagaimana dengan aku yang butuh
kepastian saat itu? Apakah kita terlalu cepat membangun komitmen ini?
Ntahlah biarkan waktu yang menjawab semuanya. Tapi dibalik rasa kecewaku
itu, kamu gak ingin buat aku kecewa sepertinya dan akhirnya kamu
menerima aku dan memulai menjalin komitmen kita menjadi sepasang kekasih
saat itu. Aku bahagia dan sangat bahagia saat itu :’).
…
Mestipun awalnya aku berpikir kamu
terpaksa menerimaku, tapi aku menjalani hari-hari bahagia sebagai
pacarmu. Namun, akhirnya sebuah kebohongan terungkap. Aku meminta
pertemanan denganmu di Path. Aku mencoba stalking pathmu setelah kamu
acceptnya dan aku menemukan jawaban dari semua keraguanku, kamu pernah
jalan dengan perempuan lain tapi kamu bilang kepadaku itu adikmu,
jelas-jelas aku tau siapa adikmu. Hatiku hancur saat itu, aku marah, aku
kecewa, aku berfikir apakah karena dia kamu ragu sama aku?? Aku tidak
pernah berfikir bahwa kamu saat itu mendekati aku juga dia. Aku mencoba
bertanya pada teman-temanmu apakah benar apa yang aku lihat, dan temanmu
mencoba memberi penjelasan sebaik mungkin hingga aku percaya bahwa dia
hanya teman bagimu tidak lebih. Mestipun rasanya aku sudah kecewa
denganmu, tapi lagi-lagi rasa sayangku masih dapat dikalahkan egoku. Aku
gak mungkin menyelesaikan hubungan ini begitu saja, aku hanya berusaha
mempercayaimu lagi seperti semua tidak pernah terjadi apa-apa. Aku
mencoba mendengarkan semua penjelasanmu dan aku berusaha menerima
semuanya. Sulit memang, tapi aku bisa melupakan semua kesalahanmu karena
aku mencintaimu. Aku tahu kamu menyesal atas semua yang kamu lakukan,
kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan membuatku kecewa lagi.
Hubungan kita semakin lebih baik setelah itu. Bahkan aku merasakan kamu
begitu tulus mencintaiku saat itu, dengan bagaimana caramu menyikapiku
saat aku marah, manja, saat aku sedih, saat aku dilanda masalah apapun
kamu selalu menemaniku. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah
mengirimkan seorang yang menjadikanku wanita begitu spesial, aku bahagia
dan sangat bahagia dapat merasakan kasih sayang seorang bapak, kakak,
teman dan pacar mengumpul menjadi satu dalam dirimu. Namun, kebahagiaan
itu membuatku lupa akan orang-orang terdekatku aku terlalu nyaman dengan
kamu. Aku juga semakin sering jalan-jalan bersama mu dan teman-temanmu
daripada kumpul dengan teman-temanku 😢. Mungkin saat itu Tuhan sedang membuatku lupa akan nikmat dunia yang hanya sementara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar